Jasa pembuatan patung fiber, pengrajin patung fiber, jasa patung fiber

Patung raksasa yang menggambarkan perobekan bendera Belanda terlihat begitu gagah berdiri di tengah Taman Makam Pahlawan (TMP) , jalan Suropati, Kota Batu.

Siapa saja yang melihat patung ini, pasti akan memuji hasil karya seni ini, kemudian bertanya siapa seniman patung yang membuat dan tahun berapa.

Warga Kota Batu yang mengetahui siapa perupa pembuat maha karya ini hanya tinggal hitungan jari saja. Bahkan mungkin Pemkot Batu juga tidak memiliki data siapa pembuat patung raksasa yang konon wajahnya dijadikan contoh lambang sebuah suporter sepak bola di Indonesia ini.

TIMES Indonesia beruntung karena bisa bertemu dengan salah satu kerabat pembuat patung yang menggambarkan peristiwa perobekan bendera Belanda di Hotel Oranye Surabaya.

“Tidak banyak yang tahu siapa pembuat patung perobekan bendera itu, mungkin hanya keluarga pembuat patung saja yang mengetahuinya, itu pun hanya tinggal beberapa orang saja yang mengetahuinya, karena itulah saya ingin membuat bukunya,” kata Didik Feridijanto SH, salah satu kerabat pembuat patung.

Menurut Didik, buku yang dibuatnya ini belum selesai, masih berbentuk rancangan. Lantas siapa sebenarnya pembuat patung raksasa tersebut?.

Siapa sangka pembuat patung tersebut adalah seniman yang juga seorang pejuang. Adalah Almarhum Sersan Kepala Iksan Sulianto sang seniman.

Iksan membuat patung ini mengambil inspirasi perobekan bendera Belanda di Hotel Oranye Surabaya. Ia membujuk keponakannya untuk menjadi model patungnya, hingga akhirnya terciptalah patung yang hingga kini berdiri gagah di TMP.

Pejuang yang terakhir tinggal di Torong, Kelurahan Sisir ini dulu adalah pejuang yang tergabung di Laskar Hizbullah, satu pasukan dengan Almarhum Abu Bakar dan sahabatnya Iskandar yang sampai saat ini masih hidup.

Semasa hidupnya Iksan dipercaya melatih pejuang rakyat di Pujon. Saat itu ia bergabung dengan pasukan Abdul Manan Wijaya, Komandan Batalyon Malang Barat.

Iksan kosentrasi melatih dan merekrut tentara rakyat untuk Laskar Hizbullah, terutama direkrut untuk pejuang wanita agar bergabung di Laskar Srikandi.

Selain piawai dan berani di laga peperangan, Iksan ternyata seorang seniman. Di era kemerdekaan, Iksan banyak diminta membuat beberapa monumen.

Monumen Bambu runcing di Kecamatan Pujon dibuatnya tahun 1969. Karya ini dilanjutkan dengan membuat Patung Perobekan Bendera di TMP Suropati Kota Batu pada tahun 1973.

Tidak hanya piawai membidikkan senapannya di dada musuh, Bapak 9 anak ini piawai memoles setiap sudut patung. Monumen Tunggak Semi Magelang dibangunnya tahun 1978, Monumen Status Quo dibuatnya tahun 1981 dan terakhir ia membuat Patung Hamid Rusdi di Malang Tahun 1991.

“Beliau sangat ingin sekali membuat patung Abdul Manan Wijaya, tapi belum kesampaian, beliau sudah meninggal dunia,” ujarnya

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *